|
Tulisan Menyambut Hari Stroke Sedunia, 29 Oktober 2008 Pengantar Stroke merupakan masalah kesehatan utama. Stroke adalah penyebab kematian nomor tiga, dan penyebab kecacatan nomor satu. Berdasar pada kenyataan tersebut, maka komunitas kedokteran yang tergabung dalam World Stroke Organization mencanangkan Hari Stroke Sedunia (World Stroke Day). Hari stroke sedunia diperingati setiap tanggal 29 Oktober setiap tahunnya. Hari stroke sedunia dicanangkan untuk memberi peringatan kepada semua orang bahwa “stroke dapat dicegah dan dapat diobati”. Pencegahan merupakan hal yang sangat penting, dan terutama berfokus pada pengendalian faktor risiko stroke (hipertensi, diabetes, merokok, dsb). Pada tahun ini tema yang diambil adalah “little strokes, big troubles”.
Tema ini diambil untuk menggambarkan stroke subklinis yang berujung pada gangguan memori. Penyumbatan di otak tidak menyebabkan gejala kelumpuhan yang akut, namun merupakan proses yang berlangsung kontinyu ke arah kepikunan. Penyumbatan yang bersifat demikian disebut dengan silent (subclinical) stroke. Stroke sub klinis ini terjadi 5 kali lebih sering daripada stroke dengan gejala neurologis yang nyata. Gejala yang muncul terutama adalah perubahan kepribadian, gangguan memori, dan emosi. Gejala ini seringkali tidak disadari secara dini, dan beujung pada gangguan kognitif atau demensia (pikun) vaskuler. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa kejadian stroke subklinis / silent brain infarction jauh lebih tinggi daripada stroke dengan gejala yang nyata. Penelitian pada populasi berusia 62±9 tahun memperlihatkan bahwa kejadian stroke subklinis adalah 1 diantara 10 individu (Das, dkk, 2008). Sumbatan yang kecil pada umumnya telah dapat terdeteksi dengan melakukan pemeriksaan neuropsikologi yang sangat teliti. Hal ini sukar dilakukan dalam praktek sehari-hari karena pada umumnya tidak ada gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Kewaspadaan akan stroke sub klinis haruslah ada bila berhadapan dengan pasien yang memiliki faktor risiko vaskuler multipel (hipertensi, dislipidemia, merokok, dan diabetes). Apa yang harus dilakukan ? Bila diabaikan stroke subklinis ini akan berlanjut menjadi stroke klinis dengan gejala neurologis yang berat, atau demensia vaskuler. Stroke subklinis pada umumnya menyerang substansia alba/ putih di otak. Hal ini dapat menjadi petunjuk klinis yang sangat penting. Gangguan pada substansia alba akan memunculkan gejala dalam hal gangguan perilaku, pengambilan keputusan, gangguan memori jangka pendek, dan bahkan depresi (Vermeer, dkk, 2007). Adanya gejala terhadap berbagai hal tersebut diatas haruslah diwaspadai sebagai bentuk manisfestasi gejala stroke subklinis. Skrining terhadap gangguan memori dan aspek kognitif lainnya seyogyanya dikerjakan pada pasien dengan faktor risiko vaskuler yang tinggi (Hachinski, 2008). Banyak perangkat skrining gangguan memori sederhana yang dapat dikerjakan dalam waktu 5-10 menit. Alat ukur yang dapat dipakai aalah MMSE (Mini Mental State Examination), Short Blessed Test, Time and Change Test, dsb. Adanya gangguan pada satu aspek kognitif dari tes tersebut haruslah diwaspadai. Pemeriksaan neuropsikologi lengkap seyogyanya dikerjakan pada pasien-pasien yang terjaring dalam skrining. Pemeriksaan pencitraan radiologi dengan CT Scan atau MRI dikerjakan pada pasien yang terjaring dalam pemeriksaan neuropsikologi. Hal ini penting untuk mendeteksi adanya sumbatan kecil, dan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis banding. Pelacakan yang lebih teliti harus pula dikerjakan untuk mencari faktor risiko vaskuler yang penting. Pengobatan terutama dilakukan untuk faktor risiko vaskuler yang terdeteksi. Pada kasus dengan stroke infark subklinis dapat ditambahkan anti platelet (misalnya : aspirin dosis rendah). Bagaimana dengen kita di Indonesia ? Banyak fasilitas kesehatan di Indonesia yang tidak memiliki pemeriksaan penunjang pencitraan radiologi (CT Scan atau MRI). Pada kondisi demikian tentulah lebih baik berfokus pada upaya pencegahan. Kewaspadaan akan berbagai faktor risiko vaskuler haruslah ditingkatkan. Pada banyak acara kesehatan untuk lansia (lanjut usia) terungkap bahwa hipertensi seringkali tidak terdeteksi dan tidak disadari. Pada kelompok yang terdiagnosis hipertensi, kurang dari separuhnya yang berobat secara rutin. Hal ini mudah dipahami karena hipetensi tidaklah memberikan gejala. Kondisi demikian sesuai dengan sifat hipertensi sebagai si pembunuh diam-diam (silent killers). Banyak pasien yang datang berobat ketika kerusakan vaskuler telah parah. Kewaspadaan akan bahaya berbagai faktor risiko vaskuler haruslah terus ditingkatkan. Edukasi kepada pasien dan masyarakat luas harus pula digalakkan. Upaya berhenti merokok haruslah ditekankan pada pasien yang telah memiliki faktor risiko vaskuler yang lain. Pemeriksaan laboratorium untuk melacak dislipidemia dan diabates dikerjakan pada kasus-kasus yang terpilih. Penemuan dan penatalaksanaan yang tepat akan berbagai faktor risiko tersebut diharapkan akan menurunkan angka kejadian stroke klinis dan subklinis. Pemeriksaan skrining gangguan memori dapat dikerjakan dengan relatif mudah dan cepat. Pemeriksaan terrsebut seharusnya dikerjakan pada pasien dengan faktor risiko vaskuler yang jelas (usia tua, merokok, hipertensi, diabetes, dislipidemia, dsb). Pada akhirnya kita semua diingatkan untuk terus mewaspadai stroke sebagai pembunuh nomor tiga dan penyebab kecacatan nomor satu. Prof Vladimir Hachinski pada pembukaan World Stroke Congress (24-27 September 2008) di Vienna Austria mengingatkan pentingnya untuk melakukan intervensi yang lebih dini. Kemungkinan kecacatan akan lebih besar bila pasien datang dengan gejala pikun ataupun stroke klinis. Intervensi lebih dini dengan mengendalikan faktor risiko tentulah diharapkan untuk memberi hasil yang lebih baik. Hal ini pernah diungkapkan Ovidius Naso (seorang penyair Romawi) 2000 tahun yang lalu “Act before disease has gained strength” |