|
Bapak A, 67 tahun, dibawa ke RS setelah 3 hari (72 jam) mengalami kelemahan anggota gerak kiri, dan tidak bisa berjalan mendadak. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelemahan pada anggota gerak sebelah kiri. CT Scam kepala menunjukkan adanya sumbatan di otak sebelah kanan. Dokter bertanya “mengapa baru sekarang dibawa ke RS?”. Putra bapak A menjawab “kami pikir masuk angin dok, tapi kok tidak baik-baik jadi kami bawa sekarang”
Kasus diatas terjadi di IGD RS tempat penulis bekerja.Kasus serupa seringkali dijumpai pada banyak penderita stroke lainnya. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengkampanyekan gejala stroke kepada masyarakat luas. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan bahaya stroke. Semakin cepat dikenali, dan semakin cepat mendapat pertolongan medis yang tepat, akan semakin besar kemungkinan pemulihan akibat stroke. Sebagaimana telah diungkapkan di muka, penanganan stroke adalah berpacu dengan waktu. Semakin cepat stroke ditangani semakin besar kemungkinan untuk pulih. Bayangkanlah sebuah pompa yang mengaliri sebuah sawah melalui sebuah pipa. Bila pipa itu tersumbat, manakah bagian yang paling menderita? Tentulah sawah, karena ia tidak mendapat air. Bagaimana bila pipa itu pecah? Sawah pun akan menderita, karena air yang seharusnya mengalir ke sawah akan bocor keluar. Sekarang gantilah pompa menjadi jantung, pipa sebagai pembuluh darah, dan sawah menjadi otak. Bila pembluh darah tersumbat, maka otak akan mengalami kekurangan pasokan oksigen dan zat makanan. Hal ini dapat memacu munculnya kematian sel saraf. Semakin lama pembuluh darah di otak dibiarkan tersumbat, semakin parahlah kerusakan yang akan ditimbulkannya. Konsep time is brain Stroke adalah kedaruratan medik. Semakin lambat pertolongan medis diperoleh, akan semakin banyak kerusakan sel saraf yang terjadi. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa setiap menit ada kerusakan 1,9 juta sel saraf pada stroke yang belum mendapat terapi. Perhimpunan stroke di Amerika Serikat mengungkapkan istilah “Brain Attack”. Hal ini ntuk menunjukkan bahwa kedaruratan stroke adalah sama dengan serangan jantung/ heart attack. Konsep penanganan stroke adalah berpacu dengan waktu, sehingga dikenal konsep time is brain. Semakin banyak waktu yang terbuang, semakin banyak sel saraf yang tidak dapat diselamatkan, dan semakin buruklah kecacatan yang didapat. Segeralah minta pertolongan medis bila gejala stroke muncul.
Kenali gejalanya, segera minta bantuan Permasalahan yang muncul adalah pasien stroke seringkali tidak segera datang ke RS. Banyak penelitian menunjukkan keterlambatan pasien stroke meminta pertolongan medis yang adekuat. Penelitian di Thailand menunjukkan bahwa hanya 20,2% pasien stroke yang datang ke RS dalam waktu kurang dari 24 jam (Asawavichienjinda dan Boogrid, 1998). Penelitian di Australia memperlihatkan bahwa 41% datang ke RS kurang dari 3 jam setelah gejala muncul, dan 15% antara 3-6 jam. Ada sekitar 25% pasien yang datang lewat dari 24 jam setelah serangan stroke. Jumlah ini sudah relatif lebih baik setelah adanya kampanye nasional tentang “brain attack” (Barr, dkk, 2006). Penelitian pendahuluan di RS kami memperlihatkan bahwa hanya kurang dari 10% pasien yang datang dalam kurun waktu 3 jam sejak serangan stroke. Mengapa pasien datang terlambat ke RS ? Banyak penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar pasien dan keluarganya tidak mengenali gejala stroke. Gejala stroke seringkali disalahartikan sebagai gejala penyakit lain. Perhimpunan stroke di Amerika Serikat memulai kampanye nasional untuk menyebarluaskan kewaspadaan tentang gejala stroke. Kampanye ini diberi nama FAST, yang merupakan singkatan dari Facial Weakness (kelemahan wajah), Arm Weakness (kelemahan lengan), Speech Disturbances (kesulitan bicara), dan Time is Brain (Berpacu dengan waktu). Didalam bahasa Indoneisa mungkin istilah ini dapat diterjemahkan sebagai Senyum, Gerak dan Bicara. Tiga gejala stroke dalam FAST dipilih karena merupakan gejala yang paling umum dijumpai pada pasien stroke. Gejala lain yang juga umum dijumpai adalah penurunan kesadaran mendadak, pusing berputar, nyeri kepala hebat, dsb. Bila muncul gejala gangguan saraf yang bersifat mendadak, konsultasi kepada dokter sangat dianjurkan untuk mengkonfirmasi gejala. Alat ukur ini cukup sederhana, dan dapat digunakan oleh orang awam maupun petugas kesehatan. Mintalah orang yang dicurigai stroke untuk tersenyum. Menunjukkan giginya. Bila wajahnya perot, atau wajah hanya tertarik ke salah satu sisi saja, maka curigailah ia terkena stroke. Mintalah subyek untuk mengangkat lengannya lurus keatas. Bila salah satu lengan tidak dapat terangkat dengan baik, curigailah ia sebagai stroke. Tanyakan kepadanya “siapa namamu?” dan “sekarang bulan apa?”/ “dimana anda tinggal?”. Lihat apakah subyek mengerti pertanyaan anda, apakah ia bisa menjawab, apakah jawabannya benar, bila ia berbicara apakah suaranya cedal? Bila ada salah satu kelainan pada tes diatas segera minta bantuan medis. Tes ini sangat mudah. Bila ada anggota keluarga, rekan, kerabat, atau tetangga yang dicurigai tekena stroke, dan menunjukkan hasil tes yang positif, segeralah minta pertolongan medis. Tindakan yang tepat dan cepat diharapkan akan membuahkan hasil yang lebih baik pula.
Penutup Stroke adalah penyeba kecacatan utama. Sebagai sebuah kedarutan medik, stroke memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Berbagai peneitian menunjukkan penderita seringkali terlambat datang ke RS karena tidak tahu gejala stroke. Kampanye senyum, gerak, bicara merupakan salah satu bentuk kampanye untuk mensosialisasikan gejala stroke kepada masyarakat. Peningkatan pemahaman masyarakat yang lebih baik tentang stroke diharapkan dapat menyelamatkan banyak nyawa dan menghindarkan timbulnya kecacatan. |