Aceh, Bagian Sumatra Yang Menyimpan Banyak Rahasia

Sahabat, masih ingatkah anda dengan sebuah lagu daerah yang berlirik ” Dari sabang sampai merauke”, sebagai orang Indonesia pasti mesih mengingatnya bukan? Ini merupakan sebuah lagu yang sangat terkenal di Indonesia. Lagu ini mungkin di buat di mana Indonesia memiliki berbagai macam daerah serta pulau di dalamnya.

Jika kita melihat di peta dunia atau peta bagian Indonesia yang ada di titik ujung Sumatera pasti yang kita lihat setelah sabang adalah Aceh. Jika berbicara mengenai Aceh, sangat banyak sekali yang dapat kita pelajari dan tidak ada salahnya untuk kita mencari taunya. Jika anda ingin mengetahuinya lebih dalam lagi, langkah paling tepat yang harus anda lakukan adalah menyimak artikel yang ada di bawah ini.

Sejarah Aceh

Pada abad ke-13 Aceh menjadi benteng Muslim pertama di Nusantara. Kemudian di kunjungi oleh penjelajah Inggris dan Belanda pada tahun 1591. Kekuatannya mencapai puncak pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-36). Pada masa itu, sering terjadi peperangan Portugis di Malaka dan armada Portugis dikalahkan di Bintan pada tahun 1614. Belanda dan Inggris dikatakan gagal mencoba mendirikan perdagangan di Aceh. Setelah persekutuan singkat dengan Belanda, Kesultanan Aceh menurun.

Setelah peperangan Napoleon, ketika Hindia di kembalikan ke Belanda, Inggris berusaha untuk menjaga pengaruh Belanda dari Aceh atas perjanjian yang terajdi di tahun 1824 di mana telah di tetapkan bahwa tindakan bermusuhan tidak di lakukan. Reservasi tersebut di tarik pada tahun 1873 di mana Belanda berusaha menaklukkan Aceh. Lebih dari 25 tahun, perang Aceh terbuka yang terjadi antara Aceh dan Belanda. Muhammad Daud Syah dan sultan Aceh, akhirnya menyerah kepada Belanda pada tahun 1903 dan di asingkan pada tahun 1905. Hingga akhir penjajahan Belanda, wilayah tersebut tidak pernah mendapatkan ketenangan.

Aceh menjadi provinsi otonom pada tahun 1949 dan di gabung dengan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 1950. Republik Indonesia yang terus bergolak dengan pemberontakan terbuka pada tahun 1953 dan Aceh sebagai kawasan khusus, secara administratif tidak memecahkan masalah. Perlawanan muncul lagi di tahun 1970-an, di bawah pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan menimbulkan konflik bersenjata antara separatis dan pasukan Indonesia sejak tahun 1990. Pada tahun 2002, ketika pemerintah Indonesia memberikan otonomi yang lebih besar, Aceh mengadopsi nama resminya sebagai Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Nenek moyang rakyat Aceh mungkin datang dari Selatan Vietnam, Koching Cina dan Kamboja. Kemudian Deutero Melayu membawa budaya baru. Awal rakyat Aceh (Proto Melayu) membentuk 2 kelompok suku Gayo dan Alas. Aceh memiliki posisi yang strategis di ujung barat laut Sumatera di antara Timur dan Barat. Aceh menjadi titik jalur perdagangan rempah-rempah dari Maluku, Kamper dan merica dari Barus.

Aceh juga menjadi titik masuk Islam yang kemudian di bawa oleh pedagang Arab, Persia, Turki dan India. Peureulak hadir di Aceh Timur menjadi Kerajaan Islam pada tahun 840. Itu adalah Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Pada akhir abad ke-13, Kerajaan Islam yang kuat muncul, Pasai tidak hanya menjadi pusat komersial, tetapi juga pusat agama dan pendidikan. Islam mulai menyebar dan tumbuh kuat selama era Pasai.

Portugis tiba untuk pertama kalinya pada tahun 1509 ke kerajaan Pasai dan Pedir (Pidie) yang kemudian menaklukkan Malaka di Malaysia. Periode ini di tandai oleh persaingan antara Aceh, Johor (di Malaysia) dan Portugis di Malaka untuk mengontrol perdagangan di Selat Malaka. Meskipun Aceh akhirnya memenangkan perang, mereka tidak pernah berhasil membangun pijakan permanen karena Rakyat Aceh sering terhalang oleh perselisihan internal.

Sebelumnya, tahun 1607-1636 Sultan Iskandar Muda memerintah Aceh dan Aceh menjadi kekuatan utama yang di bangun di atas kekuatan militer. Pada tahun 1612, Iskandar Muda mengambil Deli dan Aru (dekat Medan) dan di tahun 1613, ia mengalahkan Johor, tapi Johor pada akhirnya berhasil mempertahankan kemerdekaan dengan mengusir pasukan Aceh. Tahun berikutnya, ia mengalahkan Portugis di Bintan dengan mengambil Pahang dan Kedah di Malaysia, menjarah ibukota Johor dan menguasai Nias di tahun 1624 atau 1625.

Pada tahun 1629, Sultan Iskandar Muda mengirim beberapa ratus kapal kepada Malaka, tapi semua kapal tersebut dihancurkan. Menurut laporan Portugis, kapal yang bermutan 19,000 orang itu hilang. Setelah pemerintahannya di Aceh, kekuatan Aceh menurun dan Johor menjadi sangat berkembang. Belanda memasuki masa perpecahan internal dan wibawa kerajaan berkurang. Pada masa Iskandar Muda, Aceh merupakan kerajaan yang penting di Indonesia dalam Sastra Melayu, terutama dalam keagamaan. Empat penulis paling penting adalah Pansuri Hamzah, Syamsuddin Pasai, Abdurrauf Singkil dan India Nuruddin al-Raniri. Setelah penurunan daya Aceh, sastra Aceh juga kehilangan kepentingannya. Antara tahun 1641 dan 1699 empat Ratu memerintah Muslim Aceh.

Pada tahun 1820, Aceh muncul dengan kekuatan komersial dan politik. Pada tahun 1820, Aceh memproduksi lada. Pemimpin Aceh baru muncul, Tuanku Ibrahim yang memulihkan kekuasaan Kesultanan. Ia menjadi penjaga beberapa Sultan dari tahun 1838 hingga kematiannya pada tahun 1857 dengan gelar Sultan Ali Alauddin Mansur Syah sebagai penguasa merica terhadap sebuah ekspedisi pada tahun 1854 yang terkenal di Langkat dan Deli Serdang (di Sumatera Utara).

Aceh adalah nama bangsa yang hidup di ujung paling utara pulau Sumatera yang terletak di antara Samudera Hindia dan Selat Malaka.

Aceh adalah sebuah nama dengan berbagai legenda dan mitos sebagai sebuah negara yang secara internasional di kenal sejak berdirinya kerajaan Poli dan Pidie di Aceh dengan mencapai puncak kemuliaan dan kejayaan kerajaan Aceh Darussalam selama era pemerintahan Sulthan Iskandar Muda sampai akhir kesulthanan Aceh pada tahun 1903 dari Sulthan Muhammad Daud Shah.

Meskipun dari tahun 1903 hingga 1945, selama 42 tahun Aceh tidak memiliki pemimpin dan Aceh berdiri serta terus berjuang untuk merebut kemerdekaan dari tangan Belanda dan Jepang yang dipimpin oleh pahlawan Aceh seperti Umar, Cut Nyak Dhien dan lainnya.

Fakta Tentang Aceh

Provinsi Aceh (NAD) memiliki luas sekitar 60.000 km dan di huni sekitar 4.200.000 penduduk yang di bagi pada beberapa kelompok etnis seperti Aceh Utara dan daerah pesisir Barat, Melayu Tamiang di daerah pesisir timur, Gayo di daerah Pegunungan Tengah, Alas di dataran Tenggara, Pesisir di daerah pesisir Barat Selatan dan beberapa kelompok-kelompok kecil di Pulau Simeulue dan Pulau Banyak. Dari beberapa kelompok etnis tersebut, ada sebanyak 10 bahasa berbeda yang di ucapkan di Aceh. Suku pedalaman di dominasi oleh pegunungan Bukit Barisan. Puncak tertinggi adalah Leuser: 3, 466m, Ucop Molu: 3.187m dan Abong-Abong: 3.015m.

Pulau Aceh terdiri dari 5 pulau utama di mana Pulau Nasi dan Pulau Breueh yang di huni. Yang lain adalah Pulau Batee, Pulau Bunta dan Pulau Kreusik. Ini memiliki luas sekitar 241 km dan membentuk kecamatan di Kabupaten Aceh Besar. Tidak ada kota, tetapi beberapa desa. Beberapa bagian rusak parah oleh bencana tsunami.

Mitos Tentang Aceh

1. Sejak kurun pertama, Aceh telah menjadi jalur perdagangan internasional. Aceh di katakan menjadi salah satu daerah yang di kunjungi oleh perantau. Bahkan, beberapa dari mereka memilih tinggal dan menetap di Aceh sehingga orang Aceh memiliki keberagaman. Di zaman Yunani, Eropa timur mendapat rempah-rempah dari pedagang Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Mediterania pada waktu itu. Namun, rempah-rempah yang tidak asli Di peroleh dari Arab Saba. Orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah dari Barygaza atau dari India pantai Malabar dan pelabuhan lain. Sebelum diangkut ke negara mereka, rempah-rempah lebih dulu di kumpulkan di Aceh.

2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya menyebutkan bahwa berita tentang Aceh sebelum abad 16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan kerajaan Aceh sangat menyimpang dan tersebar.

3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya mengatakan bahwa rakyat Aceh termasuk dalam keluarga Melayu yaitu Mantee (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain-lain. Semua bangsa-bangsa ini berhubungan erat dengan bangsa Phila Babilonia dan orang Dravidia di lembah Sungai Indus dan Gangga, India.

Para lelaki di Aceh awalnya berada di Aceh Besar terutama di Kampung Seumileuk yang juga di sebut Gampong Rumoh Dua bla. Lokasi desa terletak di atas Seulimum, antara Jantho dan Tangse. Seumileuk berarti dataran yang luas. Bangsa Mante adalah tumbuh menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian pindah ke tempat lain.

Setelah 400 AD, orang-orang mulai memanggil “Aceh” sebagai Rami atau Ramni. Orang Cina menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li dan Poli nan yang nama aslinya sesuai dengan bahasa Aceh adalah Lam Muri. Sementara Melayu menyebutnya Lam Bri. Dalam catatan e. Gerini’s, nama Lambri adalah pengganti Rambri (Negeri Rama) terletak di Arakan (antara India dan Burma) yang merupakan perubahan dari Rama Bar atau Rama Bari.

4. Rouffaer, salah satu penulis sejarah mengatakan al Ramni atau al Rami di mana pengucapan kata dari djoko itu palsu. Setelah kedatangan orang Portugis, mereka lebih suka menyebutnya Aceh dengan Acehm.

5. Sementara Arab menyebutnya Asji. Penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin dan Acheh. Begitu juga dengan Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achim. Orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh dan Atjeh. Rakyat Aceh sendiri, pada waktu itu menyebutnya sebagai Atjeh.

6. Asal-usul dari nama Aceh memiliki banyak varietas. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh kebanyakan di ceritakan dalam cerita lama, seperti dongeng. Di antara mereka, mengatakan pada zaman kuno, kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih. Awak kapal (ABK) kemudian pergi ke Kampung Pande. Namun, tiba-tiba hujan dan mereka berlindung di bawah pohon. Mereka menyebut pohon tersebut dengan Aca Aca, Aca, yang berarti cantik dan indah. Dari kata Aca lahir nama Aceh.

7. Dalam versi lain, di ceritakan tentang perjalanan Buddha ke Cina dan Kepulauan Melayu. Ketika orang bijak berada di perairan Aceh, ia melihat cahaya berwarna-warni di gunung. Ia juga berseru “Acchera Vaata Bho” yang artinya  betapa indahnya. Dari nama itu, lahirlah nama Aceh.

8. Dalam cerita lain yang di sebutkan, ada dua bersaudara sedang mandi di sungai yang salah satu dari mereka sedang hamil. Tiba-tiba, mereka melihat sesuatu yang terhanyut dan sangkut ke rakit yang terbuat dari pohon pisang. Mereka melihat ada sesuatu yang  bergerak, kemudian kedua gadis tersebut berenang dan mengambilnya.

Ternyata itu adalah bayi. Kakak dari kedua bersaudara tersebut berkata kepada saudara perempuannya “berikan kepadaku karena adik telah hamil dan aku belum.” Permintaan itu di kabulkan oleh adiknya. Kemudian mengambil bayi dan membawanya pulang ke rumahnya. Ketika bayi di bawa keluar dari rumah, seluruh desa menjadi kagum dan berkata adoe nyang mume, ceh nyang (berarti saudara perempuannya yang hamil, tetapi adiknya yang melahirkan).

9. Mitos lain mengatakan bahwa di zaman kuno ada anak raja yang sedang berlayar dan kapalnya karam. Ia terdampar ke pantai, di bawah pohon yang di namai penduduk setempat mnyebutnya pohon aceh. Nama pohon kemudian berubah menjadi nama Aceh.

10. Talson mengatakan, pada satu waktu. Ishaq menghilang melarikan diri dari negaranya, tetapi kakaknya kemudian di temukan kembali di Aceh. Dia mengatakan kepada orang-orang bahwa sang putri adalah aji yang berarti “saudara”. Sejak itu, putri di angkat menjadi pemimpin dan nama aji nama di gunakan sebagai nama wilayah yang kemudian secara bertahap berubah menjadi Aceh.

11. Mitos lain yang lahir di antara rakyat Aceh menyebutkan istilah Aceh berasal dari insiden istri dari seorang raja yang sedang hamil lalu melahirkan. Kemudian ini di sebut oleh penduduk ceh ka yang berarti telah lahir. Dan, dari sini datang kata Aceh.

Perang Aceh

Pemerintah kolonial Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret tahun 1873 dan awal tahun 1873 wakil-wakil Aceh melakukan sebuah diskusi dengan AS di Singapura. Sekitar tahun 1874, Mayor Jenderal K hler malakukan sebuah ekspedisi dengan menguasai sebagian besar pesisr. Itu adalah maksud Belanda untuk menyerang dan mengambil alih Kraton Yogyakarta, yang juga akan mengakibatkan pendudukan seluruh negeri.

Sultan diminta dan menerima bantuan militer dari Italia dan Inggris di Singapura dan tentara Aceh berhasil membunuh Khler yang saat ini telah di bangun sebuah monumen di dalam masjid Grand Banda Aceh.

Ekspedisi yang di pimpin oleh Jenderal Van Swieten berhasil menangkap sultan istana, namun sultan memberikan peringatan dan lolos dari penagkapan. Selama 10 tahun, Gerilya intermiten terus terjadi di wilayah Aceh dengan banyak korban di kedua belah pihak. Di sekitar 1880, Belanda mengubah strategi dengan tidak melanjutkan perang, mereka berkonsentrasi pada beberapa daerah yang sudah di kendalikan seperti Banda Aceh dan kota pelabuhan Ulee Lheue.

Perang di mulai lagi pada tahun 1883, ketika kapal Inggris Nisero terdampar di Aceh, di daerah di mana Belanda memiliki pengaruh kecil. Pemimpin lokal meminta tebusan dari Belanda di bawah tekanan Inggris yang di paksa untuk membebaskan para pelaut. Setelah Belanda gagal mencoba untuk menyelamatkan Para sandera, Teuku Umar di minta untuk membantu tetapi ia menolak, Belanda bersama Inggris menyerang wilayah tersebut.

Menteri Belanda Weitzel Warfare juga menyatakan perang terbuka di Aceh. Belanda juga mencoba untuk meminta  kepada Umar dengan menjual opium dan senjata. Umar menerima gelar panglima besar prang (panglima perang atas pemerintah). Pada 1 Januari 1894, Umar bahkan menerima bantuan Belanda dengan membangun tentara. Namun, dua tahun kemudian Umar menyerang Belanda dengan pasukannya yang baru.

Gerakan Aceh Merdeka

Selama tahun 1970-an, di bawah perjanjian dengan pemerintah Republik Indonesia, perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika mulai memanfaatkan sumber daya alam Aceh. Dugaan tidak seimbang dari pemasaran atau keuntungan antara pemerintah pusat dan penduduk asli Aceh Muhammad Hasan di Tiro, mantan duta besar Darul Islam untuk menyerukan independen Aceh. Ia memproklamirkan kemerdekaan Aceh pada tahun 1976.

Pada awalnya, Gerakan memiliki sejumlah kecil pengikut dan Muhammad Hasan di Tiro hidup dalam pengasingan di Swedia. Sementara itu, Soeharto melakukan kebijakan pembangunan ekonomi dan industrialisasi. Selama akhir 80-an beberapa insiden keamanan mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan represif dan mengirimkan pasukan ke Aceh. Pelanggaran hak asasi manusia merajalela selama dekade yang mengakibatkan banyak keluhan dari rakyat Aceh terhadap pemerintah Indonesia.

Selama akhir 90-an, kekacauan di Jawa dan pemerintah pusat memberikan keuntungan kepada Gerakan Aceh Merdeka dan mengakibatkan pemberontakan tahap ke2 dengan dukungan sejumlah besar masyarakat Aceh. Dukungan ini di tunjukkan selama pemilihan di Banda Aceh yang di hadiri hampir setengah juta orang (dari empat juta penduduk).

Pemerintah Indonesia merespon pada tahun 2001 dengan memperluas otonomi Aceh dengan memberikan pemerintah yang tepat untuk menerapkan hukum Syariah dan hak untuk menerima langsung laba atas investasi asing. Ini di sertai dengan tindakan represif, namun tahun 2003, kondisi darurat militer kembali lagi terjadi. Perang masih terjadi pada saat bencana Tsunami 2004 melanda Aceh.

Bencana Tsunami Aceh

Wilayah Pantai Barat Aceh termasuk Kota Banda Aceh Calang dan Meulaboh merupakan daerah paling parah yang  terkena tsunami akibat gempa bumi Samudra Hindia pada tanggal 26 Desember 2004. Pada bencana alam yang sangat mengerikan tersebut kira-kira berkisar 230.000 orang tewas akibat gempa dan tsunami di Aceh dan sekitar 500.000 jiwa mengalami luka-luka.

Tragedi tsunami ini semakin parah dengan gempa lepas pantai kedua dengan kedalaman 8.7 skala Richter melanda laut antara pulau Simeulue di Aceh dan Nias di Sumatera Utara. Gempa kedua yang berdampak Tsunami ini membunuh lebih 905 orang Nias dan Simeulue serta pengungsi mencapai puluhan ribu lebih.

Puluhan tahun bencana telah berlalu, tetapi sejarah yang menghancurkan Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi kenangan yang masih menghantui. Tsunami adalah bencana terbesar dalam sejarah dunia yang membunuh ratusan ribu orang. Banyak orang kehilangan keluarga serta tempat tinggal dan harta benda yang tak bersisa. Dengan hanya hitungan  menit, ibu kota Aceh telah di musnahkan dan menjadi lautan mayat pada saat itu.

Islam di Aceh

Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia. Wilayah ini terletak di ujung utara dari Sumatera. Ibukotanya adalah Banda Aceh. Andaman dan Nikobar di India dan terpisah dengan Laut Andaman. Penduduknya dikatakan persentase tertinggi Muslim di Indonesia yang sebagian besar hidup sesuai Syariah kepabeanan dan hukum.

Ada 10 kelompok etnis asli di wilayah Aceh yang terbesar adalah rakyat Aceh dan sekitar 80% hingga 90% penduduk kawasan. Aceh di di ktakan telah menjadi tempat di mana penyebaran Islam Indonesia di mulai dan merupakan faktor kunci penyebaran Islam di Asia Tenggara. Islam lahir di Aceh sekitar tahun 1250. Pada awal abad 17, Kesultanan Aceh di ktakan yang paling kaya dan kuat dan di wilayah Selat Malaka. Aceh memiliki sejarah kemerdekaan dan perlawanan terhadap negara luar, termasuk bekas penjajahan Belanda.

Hukum Aceh

Provinsi Aceh di Indonesia memberlakukan beberapa ketentuan hukum pidana Islam yang juga Aceh merupakan satu-satunya provinsi Indonesia yang melakukannya. Di Aceh, hukum pidana Islam di sebut jinayat. Undang-undang yang disebut Qanun Jinayat atau Hukum Jinayat yang berarti “Pidana Islam”. Pelanggaran di bawah ketentuan termasuk konsumsi dan produksi alkohol, perjudian, perzinahan, perkosaan, pelecehan seksual, keintiman di luar perkawinan dan tindakan homoseksual.

Hukuman termasuk memukul pakai rotan, denda dan hukuman penjara.  Tidak ada ketentuan pelemparan batu. Pada tahun 2016, Aceh telah memproses sebanyak 324 kasus pengadilan di bawah hukum pidana Islam dan di lakukan setidaknya 100 Hukuman pukulan rotan.

Suku Aceh di Indonesia

Suku Aceh adalah nama dari suku yang tinggal di ujung utara dari Sumatera. Mereka adalah Muslim. Bahasa yang digunakan oleh mereka adalah dengan menggunakan bahasa Aceh yang masih berhubungan dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Aceh merupakan bahasa rumpun bagian barat, sebuah cabang dari bahasa Austronesia. Suku Aceh memiliki sejarah panjang dari kerajaan Islam sampai perjuangan selama pendudukan kolonial Hindia Belanda.

Banyak dari budaya Aceh menyerap budaya Hindu India, dimana kosa-kata bahasa Aceh berbahasa Sanskerta. Suku Aceh adalah suku di Indonesia yang pertama memeluk Islam dan mendirikan Kerajaan Islam. Sebagian besar rakyat Aceh bekerja sebagai petani, penambang dan nelayan.

A. Suku Gayo

Suku Gayo adalah suku yang mendiami dataran Gayo di Aceh. Mayoritas suku Gayo di Aceh  yaitu Bener Meriah, Gayo Lues dan 3 Kabupaten di Aceh Timur, Kecamatan dari Serbe, Peunaron dan Simpang Jernih. Selain itu, suku Gayo juga mempunyai beberapa desa di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara. Suku Gayo Muslim di kenal sangat taat terhadap agama. Suku Gayo menggunakan bahasa yang di sebut Gayo.

B. Suku Singkil

Suku Singkil adalah suku yang terletak di Kabupaten Aceh Singkil dan Subulussalam di Propinsi Aceh. Posisi suku Singkil masih di perdebatkan apakah itu milik suku Pakpak Suak Boang atau sebagai satu suku terpisah dari suku Pakpak.

C. Suku Alas

Suku Alas adalah salah satu suku yang tinggal di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh (yang juga sering disebut Tanah Alas). Kata “dasar” Alas berarti “mat”. Ini memiliki sesuatu untuk dilakukan dengan kondisi daerah yang membentang datar seperti tikar di sela-sela daerah Bukit Barisan.Tanah Alas memiliki banyak sungai yang salah satunya adalah Lawe Alas (Alas sungai).

Kebanyakan suku Alas tinggal di daerah pedesaan dan tinggal di lahan pertanian serta peternakan. Tanah Alas adalah lumbung beras untuk Aceh. Namun Selain itu mereka juga tanaman karet, kopi dan kemiri serta mencari berbagai produk hutan seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan hewan olahan mereka adalah kambing, kerbau dan sapi.

Desa alas atau desa yang di sebut kute. Kute biasanya di huni oleh satu atau beberapa keluarga. Anggota keluarga berasal dari satu nenek moyang. Pola kehidupan keluarga mereka adalah kesatuan dan persatuan. Mereka menggambar garis keturunan laki-laki, berarti silsilah laki-laki.

Suku Alas 100% sebagai penganut Islam. Namun ada juga yang percaya dalam praktek perdukunan misalnya dalam pertanian. Mereka melakukan upacara dengan latar belakang dan keyakinan tertentu dalam rangka untuk pertanian agar membawa hasil yang baik atau untuk menghindari hama.

D. Suku Aneuk Jame

Suku Aneuk Jamee adalah suatu suku yang tersebar di sepanjang Pantai Barat dan Selatan Aceh. Dalam bahasa, mereka menggunakan bahasa Minangkabau. Namun, karena pengaruh proses asimilasi, sebagian besar suku Aneuk Jamee terutama mereka yang menghuni daerah-daerah yang di dominasi oleh suku Aceh, misalnya di Kabupaten Aceh Barat, bahasa yang di ucapkan Aneuk Jamee hanya di antara petua-tua dan sekarang umumnya lebih lazim di Aceh sebagai lingua franca (lingua franca).

Asal-usul penyebutan “Aneuk Jamee” di duga di populerkan oleh suku Aceh, sebagai manifestasi dari sifat keterbukaan Aceh dalam memuliakan kelompok penduduk Minangkabau yang tiba dari tanah leluhur yang berada di bawah kolonial Belanda. Secara harfiah, istilah Aneuk Jamee berasal dari bahasa Aceh yang berarti “tamu anak”.

E. Suku Tamiang

Penduduk Utama Kabupaten Aceh Tamiang adalah suku Melayu atau lebih umum di sebut Tamiang Melayu. Mereka memiliki bahasa dan dialek yang sama dengan komunitas Melayu yang tinggal di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dan berbeda dari orang-orang Aceh. Dalam hal budaya, mereka juga mirip dengan lain masyarakat lain seperti pesisir timur Sumatera.

F. Suku Kluet

Suku Kluet adalah suku yang mendiami beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Selatan, kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah dan Kluet Timur.

G. Suku Lekon

Suku Lekon adalah sebuah suku di distrik Alafan, Simeulue di Provinsi Aceh. Suku ini terletak di desa Lafakha dan Langi.

H. Suku Devayan

Suku Devayan adalah suku yang mempunyai pulau Simeulue. Suku ini mempunyai Teupah Barat distrik, Simeulue Timur, Simeulue tengah, Teupah Selatan dan Teluk Dalam.

I. Suku Sigulai

Suku Sigulai adalah suku yang mempunyai pulau Simeulue utara. Suku ini terletak di Barat Simeulue, Alafan dan Salang.

J. Suku Pakpak

Suku Pakpak adalah salah satu suku-suku di pulau Sumatera Indonesia dan tersebar di berbagai Kabupaten atau Kota di Sumatera Utara dan Aceh seperti yaki di Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan (Sumatera Utara), Aceh Singkil dan Sabulusalam.

H. Suku Haloban

Suku Haloban adalah suatu suku yang terletak di Kabupaten Aceh Singkil tepatnya di Pulau Banyak. Kecamatan Pulau Banyak adalah sebuah distrik yang terdiri dari 7 desa dengan pulau yang terletak di Balai Desa.

Budaya dan Tradisi Aceh

Aceh terletak di provinsi Sumatera utara dan Aceh paling terkenal di seluruh Kepulauan di mana penduduk Aceh banyak menganut Agama Islam dan perlawanan mereka terhadap militan. Sepanjang abad ke-19, Aceh sangat terkenal dengan perkebunan dan sebagian besar rakyat Aceh adalah adalah petani padi di daerah pesisir.

Secara tradisional, laki-laki Aceh secara lahiriah mengikuti perdagangan dunia. Laki-laki dewasa meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di kota orang sambil mancari pengalaman dan reputasi melalui perdagangan. Ini mungkin malakukan perjalanan ke desa, Provinsi atau pulau yang lain. Salah satu model kehidupan keluarga Aceh adalah bahwa seorang wanita mengizinkan seorang pria keluar dari rumah untuk malakukan perdagangan dan menyambut kembali ketika ia membawa uang ke rumah dan begitu seterusnya.

Sementara itu, perempuan bekerja di ladang dan menjaga kebun dan sawah. Pada tahun 80-an, Aceh mengalami kesulitan dengan meningkatnya jumlah pria yang tidak kembali ke Aceh, sebaliknya tetap dan menikah di luar daerah seperti Jakarta dan Kalimantan.

Sahabat, demikain ini kami sampaikan untuk anda semoga artikel ini dapat di jadikan sebagai sumber bacaan yang dapat memberikan manfaat serta berguna bagi pembacanya. Selamat membaca dan sampai bertemu kembali di lain hari dan juga dengan sajian kami yang tidak kalah menarik. Tunggu kami di hari berikutnya ya sahabat.