Hipertensi dan Diabetes

Hipertensi dan diabetes adalah faktor risiko stroke yang utama. Makalah ini membahas aspek klinis hipertensi pada
diabetes. Makalah ditulis oleh dr. Marwani Bratasaputra beberapa waktu yang lalu dalam seminar hipertensi. Makalah
lengkap dapat dilihat pada buku seminar.

Hipertensi

Diabetes mellitus saat ini merupakan penyakit yang prevalensinya semakin meningkat, bahkan dikatakan bahwa telah
muncul epidemi diabetes di seluruh dunia. Diperkirakan bahwa pada tahun 2010 terdapat 221 juta penduduk dunia yang
mengidap diabetes, dan dari sejumlah ini 97% merupakan diabetes tipe 2 (selanjutnya disingkat DMT2). Di Amerika saat
ini dperkirakan 20 juta penduduk menderita DM, sementara 90-95% merupakan DMT2. Jumlah ini diprojeksikan akan
meningkat secara dramatis pada tahun-tahun mendatang akibat meningkatnya angka kegemukan, kurangnya aktivitas
fisik, dan semakin banyaknya penduduk berusia tua. Di Indonesia, prevalensi DM berkisar antara 1.5-2.3%, dan
berdasar prevalensi ini jumlah penderita DM di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan akan meningkat sebesar 86-
138% dibandingkan kenaikan penduduk Indonesia pada periode yang sama yang hanya sebesar 40% saja.
Berdasarkan pola pertumbuhan penduduk, diperkirakan pada tahun 2030 terdapat 194 juta penduduk yang berusia di
atas 20 tahun, dari jumlah ini diprediksikan akan terdapat 12 juta penderita DM di daerah urban dan 8.1 juta di daerah
ruralHipertensi pada diabetes.

Penyebab kematian utama pada penderita DM adalah penyakit kardiovaskuler. Berbagai faktor risiko penyakit
kardiovaskuler yang terhimpun dalam DM di antaranya adalah hipertensi, obesitas sentral, dislipidemia,
mikroalbuminuria, kelainan koagulasi, tiadanya “nocturnal dipping” tekanan darah dan nadi, serta hipertrofi
ventrikel kiri. Di antara faktor risiko ini, hipertensi dapat mencapai dua kali lebih sering terjadi pada diabetes
dibandingkan dengan penderita non diabetes, pada DMT1 hipertensi terdapat pada 10-30% penderita, sedangkan pada
DMT2 30-50% penderita mengidap hipertensi.

Dengan adanya komorbiditas antara dua penyakit ini, berarti dua “silent killers” terdapat pada satu
penderita, dan ini ternyata akan diikuti dengan risiko kejadian kardiovaskuler yang juga lebih tinggi daripada tanpa
komorbiditas.

Diagnosis dan pengobatan hipertensi penting untuk mencegah terjadinya penyakit kardiovaskuler pada penderita
diabetes. Penelitian observasional menunjukkan bahwa penderita dengan komorbiditas diabetes dan hipertensi
mempunyai risiko penyakit kardiovaskuler kurang lebih dua kali lipat dibanding penderita nondiabetik dengan hipertensi.
Pengurangan mortalitas kardiovaskuler paling besar terjadi bila tekanan diastolik diturunkan hingga di bawah 80 mmHg,
sementara bukti-bukti epidemiologik menunjukkan bahwa menurunkan tekanan sistolik di bawah 130 mmHg akan sangat
menguntungkan. Oleh karenanya kontrol tekanan darah yang agresif harus dilakukan pada semua penderita diabetes.
UKPDS (United Kingdom Prospective Diabetes Study) menyimpulkan bahwa setiap penurunan tekanan darah sistolik
sebesar 10 mmHg akan mengurangi risiko komplikasi diabetes sebesar 12%, mengurangi risiko kematian 15%, risiko
infark miokard 11% dan komplikasi mikrovaskuler 13%.

Pengelolaan hipertensi pada diabetes

Pada penderita dengan tekanan darah sistolik antara 130-139 mmHg atau diastolik 80-89 mmHg, dapat dilakukan
pendekatan perubahan perilaku atau perubahan pola hidup sekurang-kurangnya selama tiga bulan, yang meliputi :
pembatasan asupan garam, pengaturan berat badan, meningkatkan aktivitas fisik, menghentikan rokok, dan konsumsi
alkohol tak berlebihan. Pada penelitian Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH) modifikasi gaya hidup di atas
secara nyata dapat menurunkan tekanan darah. Asupan garam yang berlebihan terbukti menyebabkan efek yang buruk
pada penderita diabetes karena dapat mengurangi efek obat antihipertensif. Pembatasan garam sedang pada berbagai
penelitian terkontrol ternyata dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 5 mmHg dan diastolik sebesar 2-3
mmHg.
Penurunan berat badan juga dapat menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan 1 kg ternyata dapat
menurunkan tekanan darah 1 mmHg. Aktivitas fisik dengan intensitas sedang, misalnya jalan cepat selama 30-45 menit

hampir setiap hari, terbukti menurunkan tekanan darah. Yang tak kalah pentingnya bagi penderita diabetes dengan
hipertensi adalah menghentikan rokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
Bila dalam waktu sekurang-kurangnya tiga bulan ternyata tekanan darah tidak turun sampai di bawah 130/80 mmHg,
maka perlu ditambahkan pengelolaan farmakologik.
Penderita diabetes dengan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg selain modifikasi gaya hidup perlu segera diberikan obat
antihipertensi. dengan dosis yang tersedia, kebanyakan obat antihipertensi akan menurunkan tekanan darah sistolik
atau diastolik pada 5-10% penderita dengan hipertensi ringan atau sedang. Karena itu bila target penurunan tekanan
darah sampai <130/80 mmHg umumnya diperlukan lebih dari satu macam obat antihipertensi, bahkan mungkin tiga atau
lebih macam obat.

Selanjutnya dalam memilih obat antihipertensi, perlu dipertimbangkan efek obat terhadap
berkembangnya komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler. Pada umumnya obat-obat yang dianggap sesuai untuk
pengobatan awal adalah ACE inhibitor, ARB, diuretika thiazide dosis rendah, dan betabloker.